PARNAMORAAN

0.0

Tempat Deang Namora putri Raja Silahisabungan bertenun.

Tempat ini merupakan tempat Namboru Parsadaan, Deang Namora di masa hidupnya untuk bertenun ulos dengan cara manual dan konvensional yang nantinya dikenakan oleh ke tujuh saudara laki-lakinya.

Perpisahan di Huta Lahi kurang memuaskan Deang Namora. Sewaktu Raja Silahisabungan dan Siraja Tambun berangkat dari Huta Lahi, ia ikut mengantar ketepi pantai. Rupanya Raja Silahisabungan membawa Siraja Tambun ketuktuk Simartaja dan terus ke Nauli Basa untuk memperdalam ilmu Siraja Tambun. Deang Namora terus mengikuti mereka sampai ke Nauli Basa, ayahnya membujuk Deang Namora supaya kembali ke kampung Huta Lahi. Pada saat itulah Deang Namora menangis bersenandung yang memilukan hati:” Amang Siraja ibotna, marsirang ma hita ditano Nauli Basa, borhat ma damang tu tano Sibisa. Ahu do na pagodang – godang damang marsiak bagi, sian dakdanak sahat tu doli – doli, mulak ma ahu amang Siraja ibotna tu Huta Lahi, na boha do bagian ni Siboruadi?” katanya sambil melangkah berat hati.

Karena lelahnya berjalan ke Silalahi disertai perasaan sedih, Deang Namora duduk diatas batu melepaskan lelah sambil merenungi perpisahananya dengan siraja Tambun. Pada waktu itu ibotona (saudaranya) sudah mencari – cari Deang Namora. Mereka takut Deang Namora mandele ( putus asa) akibat keberangkatan Siraja Tambun, sewaktu mereka menemukan Deang Namora duduk – duduk diatas batu, lalu diajak supaya pulang kekampung. Tetapi Deang Namora menjawab:” saya sudah merasa senang ditempat ini. Disinilah kalian bangun undung – undungku ( pondok) tempat bertenun.”katanya. saudaranya membujuk dan berkata :” pulanglah dulu kita, supaya dibangun pondokmu, baru bawalah alat–alat tenunmu kemari,” kata saudaranya tanda setuju.

Setelah pondoknya dibangun, Deang Namora membawa alat – alat tenunnya ketempat itu, yang kemudian disebut Batu Parnamoraan. Disitulah Deang Namora tinggal sampai akhir hayatnya. Dan menjadi keramat yang berkuasa di Tao Silalahi.

Tempat ini merupakan tempat Namboru Parsadaan,  Deang Namora di masa hidupnya untuk bertenun ulos dengan cara manual dan konvensional yang nantinya dikenakan oleh ke tujuh saudara laki-lakinya. Tempat ini dinamakan Batu Partonunan Deang Namora.

Ulasan

Belum ada ulasan.

Cara Pesan